Dalam sebulan ini, keluarga besar Malaysia-Indonesia telah kehilangan dua keluarga yang sudah menyelesaikan studi S3-nya di Leicester. Sepanjang proses kepulangan ini, ada satu tradisi di kampung yang dibawa dan dipertahankan, terutama teman-teman Malaysia, yaitu gotong royong.
Sudah menjadi kebiasaan mahasiswa Malaysia, pulang dari Inggris biasanya bukan hanya pulang membawa gelar, tetapi juga membawa pulang seisi rumah di Inggris. Biasanya setiap keluarga paling kurang membawa pulang satu kontainer penuh barang-barang rumah, seperti perabot, elektronik, pakaian dan barang-barang lainnya.
Sabtu kemarin, kami membantu keluarga Dr. Mahyudin Ahmad di Highfields memasukkan barang-barangnya ke kontainer. Ibu-ibu, atau puan-puan tepatnya, datang dengan masakan dan minuman, sementara bapak-bapak saling membantu memastikan semua barang yang sudah dibungkus bisa masuk kedalam kontainer 20ft yang sudah parkir didepan rumah dari jam 9.15 pagi.
Sekitar jam 12:00, hampir semua barang sudah masuk semua. Gambar di bawah adalah upaya memasukkan barang terakhir berupa 3 kasur single dan satu kasur double.
Sebelum jam 13:45 semua barang sudah masuk semua dan container pun berangkat menuju pelabuhan Southampton, yang kemudian naik kapal yang akan tiba di Penang dalam waktu 3-4 minggu.
Sementara kami, setelah solat berjamaah di Masjid Da'wah Academy diujung jalan, semuanya kembali masuk rumah yang sudah kosong untuk menikmati makan siang yang luar biasa nikmatnya. Memang, silaturrahim dan saling menolong merupakan kenikmatan tersendiri di perantauan.**
Besar di Rantau
Kisah anak perantauan. Ringan. Penuh Warna.
Sunday, January 22, 2012
Friday, January 20, 2012
Bis kota - nggak ada bedanya!
Salah satu yang membuat denyut jantung suatu kota hidup adalah bis kota. Selain menjadi tumpuan banyak warga kota, bis juga merupakan duta penting suatu kawasan urban. Kota yang dihiasi bis-bis yang bersih, tertib dan nyaman tentu merupakan idaman. Apalagi kalau sopirnya sopan, taat aturan lalu lintas dan berpakaian bersih/rapi.
Lihatlah bis kota di Leicester, Inggris ini, sopirnya pun harus lulus berbagai tes yang dibuat perusahaan dan mempunyai SIM khusus. Sebelum mengemudi penumpang, sopir harus lulus uji lapangan dulu dengan mengemudikan paling kurang dua orang penguji; satu dari perusahaan dan satu lagi dari dinas transportasi kota.
Makanya di sini, dan kota-kota lain di negara maju, tidak akan kita jumpai kejadian dibawah yang lazim kita jumpai di negeri tercinta Republik Indonesia. Aimak, malu nian kito ni samo uwong puteh.**
Thursday, June 28, 2007
the true meaning of 'departure lounge'
Have you been noticing departure lounge lately?! I have. And quite frankly, always. Both on domestic and international departures, I take time to observe my fellow travelers.
How a mother was trying to convince her kids that the flight will be pleasant, that their daddy is waiting at the end of the journey with full of presents at hand; how a young couple enjoying themselves, cuddling and kissing (mine!); how a full-suited young lady busy with her laptop - brainstorming ideas for her next presentation, which she will dutifully completed during the flight; a bunch of those stories.
To me, these are faces of departure lounge. Despite the cold blooded face of airline ground crew, who never smile, especially when there are delays, I take pride to be able to enjoy and share the feelings, of happiness, anxiety or otherwise, of my fellow travelers.
I can feel how difficult it is to cool-down traveling kids, especially on looooong flight; I sympathise those anxious but career conscious lady who is struggling with her important presentation to important client.
Phew! Life is colorful at the departure lounge. To me, this is more than just a departure lounge, it is essentially the beginning of new life, new career, new hope. But to some, it is the end of the road.
Yes, departure lounge is indeed a miniature of life.** (post lama, belagak orang puteh konon :))
Wednesday, June 27, 2007
Hanoi - second visit
Subscribe to:
Comments (Atom)


