Sunday, January 22, 2012

Pulang kampung dengan container

Dalam sebulan ini, keluarga besar Malaysia-Indonesia telah kehilangan dua keluarga yang sudah menyelesaikan studi S3-nya di Leicester. Sepanjang proses kepulangan ini, ada satu tradisi di kampung yang dibawa dan dipertahankan, terutama teman-teman Malaysia, yaitu gotong royong.

Sudah menjadi kebiasaan mahasiswa Malaysia, pulang dari Inggris biasanya bukan hanya pulang membawa gelar, tetapi juga membawa pulang seisi rumah di Inggris. Biasanya setiap keluarga paling kurang membawa pulang satu kontainer penuh barang-barang rumah, seperti perabot, elektronik, pakaian dan barang-barang lainnya.

Sabtu kemarin, kami membantu keluarga Dr. Mahyudin Ahmad di Highfields memasukkan barang-barangnya ke kontainer. Ibu-ibu, atau puan-puan tepatnya, datang dengan masakan dan minuman, sementara bapak-bapak saling membantu memastikan semua barang yang sudah dibungkus bisa masuk kedalam kontainer 20ft yang sudah parkir didepan rumah dari jam 9.15 pagi.

Sekitar jam 12:00, hampir semua barang sudah masuk semua. Gambar di bawah adalah upaya memasukkan barang terakhir berupa 3 kasur single dan satu kasur double.


Sebelum jam 13:45 semua barang sudah masuk semua dan container pun berangkat menuju pelabuhan Southampton, yang kemudian naik kapal yang akan tiba di Penang dalam waktu 3-4 minggu.

Sementara kami, setelah solat berjamaah di Masjid Da'wah Academy diujung jalan, semuanya kembali masuk rumah yang sudah kosong untuk menikmati makan siang yang luar biasa nikmatnya. Memang, silaturrahim dan saling menolong merupakan kenikmatan tersendiri di perantauan.**

Friday, January 20, 2012

Bis kota - nggak ada bedanya!

Salah satu yang membuat denyut jantung suatu kota hidup adalah bis kota. Selain menjadi tumpuan banyak warga kota, bis juga merupakan duta penting suatu kawasan urban. Kota yang dihiasi bis-bis yang bersih, tertib dan nyaman tentu merupakan idaman. Apalagi kalau sopirnya sopan, taat aturan lalu lintas dan berpakaian bersih/rapi. 


Lihatlah bis kota di Leicester, Inggris ini, sopirnya pun harus lulus berbagai tes yang dibuat perusahaan dan mempunyai SIM khusus. Sebelum mengemudi penumpang, sopir harus lulus uji lapangan dulu dengan mengemudikan paling kurang dua orang penguji; satu dari perusahaan dan satu lagi dari dinas transportasi kota. 

Makanya di sini, dan kota-kota lain di negara maju, tidak akan kita jumpai kejadian dibawah yang lazim kita jumpai di negeri tercinta Republik Indonesia. Aimak, malu nian kito ni samo uwong puteh.**